Diasuh bangsa jin

DIASUH BANGSA JIN
dari Buku Alam Jin
judul  asli Luqthul  Marjan Fi Ahkaamil-Jaan (Imam As Suyuthi)

"Moyangku telah memohon tiga hal kepada Allah untuk bangsa kami. Yakni, kami dapat melihat manusia dan manusia tak dapat melihat kami.

Kemudian kami dapat masuk ke dalam perut bumi.

Dan yang terakhir, umur kami diperpanjang, hingga apabila telah menyatu dagu dan lutut kami lantaran sudah sangat tua, maka Allah akan membuat kami jadi muda kembali.”

====================

Terkait dengan cerita tentang anak manusia yang diasuh oleh bangsa jin itulah, pernah tertulis dalam kitab al-Hawatif Kisah itu bersumber dari AlNadzar bin Amr Al-Harits yang diriwayatkan pertama kali oleh Abu Bakar Al-Sakan. Al-Nadzar berkisah, bahwa pada suatu malam, ia menyuruh salah seorang putrinya untuk mengambil air di sumber mata air yang berada di sebuah lembah. Ketika itu, ia mengaku belum memeluk agama Islam.

setelah ditunggu beberapa lama, ternyata putrinya itu tak kunjung pulang ,Dicari-cari ke sana kemari tak ketemu juga. Akhirnya Al nadzar mengerahkan keluarga dan warga kampungnya untuk ikut mencari putrinya tersebut.

Upaya pencarian itu tak juga membawa hasil. Mereka akhirnya kelahan dan menghentikan proses pencarian. Keesokan harinya. pencarian atas putri All-Nadzar itu kembali dilakukan. Tetapi hasilnya tetap sama. Karena sampai berhari-hari pencarian yang mereka lakukan tidak membawa hasil yang menggembirakan
maka diputuskanlah untuk menghentikan proses pencarian tersebut. Alasannya, karena putrinya itu sudah tak dapat diharapkan untuk bisa kembali lagi berkumpul dengan keluarganya lantaran tak diketahui di mana rimbanya.

Hingga akhirnya, pada suatu malam, Al-Nadzar melihat ada seorang perempuan yang berpenampilan lusuh. Tubuhnya penuh debu dan rambutnya pun telah putih semua. Dari penampilannya, Al-Nadzar berpikir kalau perempuan itu sudah lanjut usia. Saat itu, Al-Nadzar tengah duduk di halaman rumahnya. Perempuan tua itu datang mendekat.

Setelah diperiksa dengan saksama, Al-Nadzar baru menyadari kalau perempuan tua itu ternyata adalah putrinya yang telah lama menghilang. Maka bertanyalah Al-Nadzar pada perempuan itu untuk meyakinkan dirinya. “Benarkah engkau putriku yang hilang dulu itu?” Perempuan itu pun mengiyakan.

Cerita yang sebenarnya, akhirnya terungkap. Putri Al-Nadzar kemudian bercerita bahwa ketika ayahnya menyuruh untuk mengambil air, ia ditangkap oleh jin. Ia lalu dibawa terbang jauh sekali, hingga ia sendiri tidak tahu telah berada di mana. Menurut pengakuan putrinya itu, ia diperlakukan dengan baik selama berada dalam pengasuhan jin yang menculiknya tersebut.

Suatu ketika, terjadilah pertempuran antara dua kelompok bangsa jin. Sebelum berangkat bertempur, jin itu berjanji pada putri Al-Nadzar dengan bersumpah atas nama Allah. Bahwasanya. apabila kelompok dia memenangkan pertempuran, maka putri yang diculiknya itu akan dikembalikan lagi pada keluarganya.

Ternyata, kelompok jin itu memenangkan pertempuran. Maka, putri Al-Nadzar pun akhirnya dilepaskan dan dikembalikan pada ayahnya. Mendengar penuturan putrinya itu, Ari-Nadzar merasa oerharu dan sekaligus prihatin dengan kondisi putrinya itu.

ia pun memerintahkan anggota keluarga lainnya untuk membersihkan dan merias putrinya itu sebagaimana layaknya seorang wanita. Setelah bersih dan berdandan rapi, maks tampaklah putrinya itu sebagai gadis remaia lagi. Rambutnya pun jadi hitam kembali setelah debu yang melekat pada rambut dan wajah dicuci bersih.

Dalam waktu singkat, kehadiran putri Al-Nadzar yang telah tampil seperti gadis remaja pada umumnya. itu, membuat salah “orang pemuda yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya jadi tertarik hatinya. Tak lama kemudian, pemuda itu pun melamar putri Al-Nadzar dan lalu menikah.

Pada suatu hari, terjadilah percekcokan di antara kedua pasangan suami-istri tersebut. Dalam perselisihan itu, suaminya mengeluarkan kata-kata hinaan dan ungkapan yang menyakitkan hati istrinya.

. “Hai wanita murahan, ingat baik-baik, bahwasanya engkau tak lebih dari bekas jin dan setan; Sesungguhnya engkau bukanlah manusia lagi," demikian isi penghinaan dari sang suami.

Oleh karena tak tahan mendengar penghinaan demi penghinaan yang dilontarkan suaminya, maka putri Al-Nadzar akhirnya menggunakan cara-cara tertentu untuk memanggil jin yang pernah menculiknya dulu. Ia memperoleh cara-cara tersebut justru dari jin itu sendiri sebelum mereka berpisah. Maka datanglah jin yang pernah mengasuhnya itu ke rumah mereka seraya berkata: '

“Hai lelaki jangkung! Engkau jangan bicara sembarangan tentang wanita ini Dengarlah baik-baik. Bila engkau melangkah. kan kakimu untuk menyentuh wanita ini, maka akan kutusuk kedua bola matamu. Sesungguhnya, aku telah menjaganya pada masa kejahiliahanku dengan ketinggian derajat dan pangkatkm Kemudian pada masa keislamanku, aku menjaganya dengan agamaku.” Demikian penjelasan jin ”mantan” penculik putri Al. Naditif itu sambil memberi nada ancaman dalam kata-katanya.

Sang suami dari putri Al-Nadzar itu pun jadi takut dengan ancaman tersebut Tetapi, untuk menghilangkan rasa malunya dI hadapan keluarga, maka ia berkata pada jin itu
“Wahai jin Bukankah lebih baik jika engkau menampakkan dirimu kepadaku

"Moyangku telah memohon tiga hal kepada Allah untuk bangsa kami. Yakni, kami dapat melihat manusia dan manusia tak dapat melihat kami.

Kemudian kami dapat masuk ke dalam perut bumi.

Dan yang terakhir, umur kami diperpanjang, hingga apabila telah menyatu dagu dan lutut kami lantaran sudah sangat tua, maka Allah akan membuat kami jadi muda kembali.”

Selanjutnya, lelaki itu mengajukan pertanyaan lagi tentang persoalan lain. “Hai jin, dapatkah engkau beritahukan kepadaku tentang obat sakit demam?” tanyanya. Jin yang ditanya menjelaskan, obatnya adalah semacam serangga laba-laba yang hidup di air. Cara menggunakannya, ambil satu serangga tersebut, kemudian salah satu kakinya diikat dengan benang. Sedang sisi benang lainnya diikatkan pada tangan kiri. ' '

Menurut lelaki tersebut, cara yang diberitahukan oleh jin itu pernah dipraktikkan pada orang yang mengalami sakit demam. “ Hasilnya, orang sakit itu betul-betul jadi sembuh total dan segar bugar, seakan-akan ia telah terlepas dari ikatan yang mengekangnya.

Di samping tentang obat demam, lelaki itu juga menanyakan perihal doa atau ucapan-ucapan tertentu untuk menggaet perempuan. Jin itu balik bertanya kepadanya. Apakah ilmu yang dimintanya itu untuk mengganggu wanita lain. Lelaki itu mengiyakan. Padahal ia sudah memiliki 'seorang istri, yakni putri Al-Nadzar.

Kenakalan lelaki itu tak bisa berlanjut, karena jin itu menjawab:
“Sekiranya engkau tidak bermaksud jahat dengan ilmu itu, niscaya akan kuberitahulcan padamu." Jawaban jin itu mengakhiri perbincangan mereka. .

Dalam kitab al-Hawatif tersebut, juga ditulis cerita yang hampir serupa dengan kisah dari Al-Nadzar Al-Harits di atas. Hanya saja, cerita yang satunya ini bersumber dari Ziad bin Al Nadzar Al-Harits, dengan periwayat awal dari Muhamad bin Amf

dari sumber : buku Alam Jin (imam Suyuthi) halaman 90-92
dan dilengkapi dibuku "bercinta dengan Jin" Abu Azka Fathin halaman 146-148

Pembelian 082138064460

https://www.facebook.com/PustakaRuqyah

Perdana Akhmad, S.Psi

Seorang Praktisi Ruqyah yang (Dengan Idzin Allah SWT) Akan Membagi Ilmu dan Seni Pendayagunaan Energi Ruqyah Keseluruh Umat Islam NO.Telp:081379666696 Pin BlackBerry : 2A22C8EA

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak